Selama bertahun-tahun, perdebatan mengenai apakah e-sport layak disebut sebagai olahraga terus bergulir. Namun, sebuah temuan di lingkungan kampus menunjukkan fakta yang mengejutkan: para atlet e-sport atau gamer kampus sering kali mengalami kondisi Melelahkan jauh lebih cepat dibandingkan dengan atlet pelari atau olahragawan fisik konvensional. Kelelahan yang mereka alami bukan lagi soal nyeri otot atau asam laktat yang menumpuk di kaki, melainkan kelelahan sistem saraf pusat yang sangat ekstrem akibat paparan stimulasi digital yang intens dalam durasi yang sangat lama.
Kondisi burnout pada atlet e-sport mahasiswa diakibatkan oleh tuntutan kognitif yang konstan tanpa adanya fase istirahat bagi mata dan otak. Saat seorang pelari sedang berlatih, mereka mengalami fluktuasi intensitas; ada saatnya lari cepat, ada saatnya lari lambat, dan ada saatnya mereka beristirahat total. Sebaliknya, seorang gamer kampus harus mempertahankan fokus mikro-detik selama berjam-jam di depan layar. Setiap detik dalam permainan membutuhkan ribuan keputusan cepat, koordinasi mata-tangan yang presisi, dan komunikasi tim yang intens. Beban mental yang tidak pernah turun ini membuat cadangan dopamin dan serotonin mereka terkuras habis, memicu stres kronis.
Faktor lingkungan juga memperburuk risiko Melelahkan ini. Berbeda dengan pelari yang mendapatkan paparan sinar matahari dan udara segar yang membantu regulasi hormon stres seperti kortisol, gamer sering kali menghabiskan waktu di dalam ruangan tertutup dengan cahaya biru yang mengganggu siklus sirkadian. Mahasiswa yang terjun ke dunia e-sport sering kali kehilangan batas antara waktu belajar, waktu bermain, dan waktu istirahat. Kurangnya aktivitas fisik yang memadai membuat racun-racun stres dalam tubuh tidak terbuang dengan efektif, sehingga kelelahan mental yang mereka rasakan menjadi bersifat akumulatif dan sulit untuk dipulihkan.
Selain itu, tekanan sosial di dunia digital jauh lebih keras dan terjadi secara real-time. Seorang pelari mungkin hanya dikritik saat perlombaan usai, namun seorang atlet e-sport menerima komentar, kritik, dan toxic perilaku dari lawan maupun penonton di internet setiap detiknya. Beban emosional ini menjadi pemicu utama mengapa banyak mahasiswa berbakat di bidang e-sport memilih untuk pensiun dini. Gejala burnout yang mereka rasakan meliputi hilangnya minat pada permainan yang mereka cintai, gangguan tidur, hingga depresi ringan. Mereka merasa lelah secara jiwa meskipun tubuh mereka tampak hanya duduk diam di depan meja.