Suasana akademik di Kabupaten Labuhanbatu mendadak geger setelah sebuah berita memprihatinkan mencuat ke ruang publik pada awal tahun 2026. Peristiwa yang kemudian dilabeli sebagai Labuhanbatu Scandal ini melibatkan tindakan sewenang-wenang terhadap sejumlah pejuang olahraga kampus yang selama ini telah memberikan prestasi nyata. Isu utama dalam skandal ini adalah adanya beberapa orang atlet yang terusir secara tidak hormat tanpa adanya pemberitahuan yang jelas. Pengosongan paksa ruangan mereka dari asrama kampus memicu gelombang protes dari mahasiswa lain yang merasa bahwa pihak institusi telah bertindak tidak manusiawi terhadap mereka yang telah mengharumkan nama almamater.
Investigasi awal mengenai Labuhanbatu Scandal mengungkapkan adanya ketidakteraturan dalam manajemen fasilitas olahraga. Alasan di balik pengusiran tersebut diduga karena adanya rencana alih fungsi bangunan asrama menjadi unit bisnis komersial, tanpa memberikan solusi relokasi bagi para penghuninya. Kondisi atlet yang terusir ini sangat memilukan; banyak dari mereka yang terpaksa tidur di ruang UKM atau menumpang di rumah warga sekitar karena tidak memiliki biaya untuk menyewa tempat tinggal secara mandiri. Kejadian di dalam dari asrama kampus ini menjadi bukti nyata betapa rapuhnya perlindungan terhadap kesejahteraan atlet mahasiswa di daerah tersebut.
Dampak dari Labuhanbatu Scandal ini meluas hingga ke penurunan performa latihan. Bagaimana mungkin seorang atlet bisa fokus berlatih jika status tempat tinggalnya tidak pasti? Banyak atlet yang terusir akhirnya memutuskan untuk berhenti dari kegiatan olahraga demi mencari pekerjaan sampingan untuk bertahan hidup. Pengosongan ruangan dari asrama kampus tersebut dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap janji beasiswa dan fasilitas yang pernah dijanjikan saat mereka direkrut. Skandal ini mencoreng citra pendidikan tinggi di Labuhanbatu dan mengundang kecaman dari berbagai organisasi olahraga nasional yang menuntut keadilan bagi para mahasiswa tersebut.
Munculnya Labuhanbatu Scandal juga membuka tabir mengenai adanya dugaan pungutan liar yang selama ini tersembunyi. Beberapa atlet yang terusir mengaku dimintai sejumlah uang “pemeliharaan” tambahan agar tetap bisa menghuni kamar mereka dari asrama kampus. Ketidakmampuan mereka membayar biaya ilegal inilah yang disinyalir menjadi penyebab utama pengusiran sepihak tersebut. Hal ini memicu kemarahan publik yang menganggap institusi pendidikan telah berubah menjadi lahan pemerasan bagi mereka yang kurang mampu secara ekonomi namun kaya secara prestasi.